MITRA DPRD
Ragam

Mengisolasi Sampah Plastik dengan Ecobrick


  Minggu, 25 Agustus 2019 4:00 am

Kepala Bapenda Sinjai, Asdar Amal Darmawan (dua dari kanan), saat mencoba membuat ecobrick di area Sinjai Car Free Day. Ecobrick adalah cara sederhana mengisolasi sampah plastik. (foto: ZAR/sinjaiinfo)

Sinjai.Info, Sinjai Utara, — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton. 9,52 juta ton atau 14 persen diperkirakan adalah sampah plastik.

KLHK juga menargetkan pengurangan sampah plastik lebih dari 1,9 juta ton hingga 2019. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mengurangi sampah plastik seperti program daur ulang hingga membuat regulasi yang melarang penggunaan tas plastik.

Selain pemerintah, komunitas masyarakat juga mulai bergerak mandiri mengatasi sampah plastik. Upaya sederhana yang dilakukan komunitas tersebut ternyata efektif mengisolasi sampah plastik.

Saat ini salah satu komunitas yang bergerak melakukan edukasi di akar rumput untuk mengatasi plastik adalah Global Ecobrick Alliance atau GEA.

GEA mengenalkan Ecobrick sebagai teknologi sederhana, solusi yang memberdayakan individu untuk bertanggung jawab atas plastik mereka sendiri.

“Ecobrick tidak membutuhkan mesin, dan keterampilan khusus. Siapapun dapat melakukannya, mengemas botol dengan plastik untuk membuat balok bangunan yang berguna,” kata Trainer GEA, Indrawati Abdi, kepada Sinjai Info di lokasi Sinjai Car Free Day, Minggu (25/08/2019) pagi.

Indrawati sudah dua tahun ini menggeluti ecobrick. Ia mengaku ecobrick adalah salah satu upaya mereka di GEA menyelamatkan lingkungan. “Dari catatan kami, ada sekitar 10 juta ton sampah plastik berhasil diisolasi oleh ecobrick,” terangnya.

Khusus balok bangunan dari sampah plastik, GEA telah melakukan beberapa pelatihan di Kabupaten Sinjai dan mendapat respon positif.

“Rata-rata satu botol tempat air mineral beratnya bisa mencapai 120 hingga 200 gram lebih. Komposisi tersebut bisa dijadikan pengganti batu bata karena lebih ramah lingkungan. Juga dijadikan kursi atau tempat duduk,” tambah Mirfayani, dari komunitas ecobrick Sinjai.

Kepala Bapenda Sinjai, Asdar Amal Darmawan, juga sempat mencoba membuat ecobrick di lokasi Car Free Day. Ia mengaku membuat ecobrick dibutuhkan kesabaran dan keuletan, karena harus memasukkan satu persatu sampah plastik ke dalam botol lalu dipadatkan.

Ia mengapresiasi kegiatan GEA di Sinjai, karena mengedukasi masyarakat dengan cara yang sederhana namun efektif mengurangi sampah plastik. (ZAR)

Berita Populer

PT. Puzacha Utama Mandiri ©2015-2019 I All Right Reserved

To Top