MITRA DPRD
Ekobis

Pedagang Online di Sinjai Minta Pembatasan Akses Medsos Dicabut


  Sabtu, 25 Mei 2019 6:00 am

Nahda Arifuddin (jilbab abu-abu) saat melayani dua pelanggannya di Butik Kirana Shop miliknya. Selain mendirikan butik, Nahda saat ini fokus berdagang online melalui facebook, dan Whatsapp. Selain pakaian, ia juga menjual lauk pauk siap santap, dan kue kering. (foto: agusman/sinjaiinfo)

Sinjai.Info, Sinjai Utara,– Bulan Ramadan menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang online. Omzet mereka mengalami peningkatan sejak hari pertama Ramadan. Namun ketika pemerintah mengumumkan pembatasan akses terhadap media sosial, sebagian besar dari pedagang online khususnya di Sinjai menyesalkan kebijakan tersebut. Salah satunya Nahdawati Arifuddin.

Nahda, begitu ia akrab disapa, mengaku sistem penjualannya menjadi tidak efektif ketika ada pembatasan akses media sosial. Padahal untuk pemasaran, Ia sangat bergantung pada platform Facebook dan Whatsapp. Ia berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama.

“Saya sangat dirugikan sekali, karena seperti saya saat ini menjual secara online semua. Pelanggan kami butuh melihat foto atau video produk,” keluh Nahda.

Namun alumnus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, ini bisa menerima kebijakan pemerintah tersebut asalkan tidak berlangsung lama. “Kalau pembatasan akses media sosial ini untuk kebaikan bersama, yah saya menerima apa yang dilakukan oleh pemerintah yang penting tujuannya baik. Asalkan tidak berlangsung lama pembatasannya,” tambahnya.

Menggeluti Olshop Karena Hobi

Sebelum menjual secara online (olshop), Nahda menjual dagangannya dengan cara mendirikan butik di halaman rumahnya di Jalan Gunung Bawakaraeng, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai. Yang ia pajang di butiknya adalah pakaian jadi.

Ia lalu memilih cara lain, yakni Olshop ketika masyarakat mulai terbiasa berbelanja secara online. Ia mengaku banyak belajar penjualan online kepada temannya yang ada di Makassar. “Saya menggeluti usaha rumahan atau usaha jual online sejak menjadi mahasiswi di awal tahun 2010, dan usaha jualan online saya berupa pakaian jadi,” ungkapnya.

Dari pakaian jadi, anak dari pasangan suami-isteri, Arifuddin Mustafa dan Andi Marta, ini lalu merambah usaha lainnya, yakni makanan jadi seperti kue kering, lauk pauk, hingga menjual sandal serta sepatu.

“Yang melatarbelakangi sehingga membuat usaha online karena saya hobi jual-jualan, dan alhamdulillah bisa saya lakukan hingga sekarang,” kata Nahda menceritakan hobinya tersebut.

Meski fokus menjual secara online, butik miliknya juga tetap ramai dikunjungi pelanggan. Terutama saat bulan Ramadan ini. Omzetnya selama Ramadan bisa mencapai dua hingga tiga juta rupiah per hari untuk semua produk yang ia jual. Hanya saja omzet tersebut mengalami penurunan dua hari ini ketika terjadi pembatasan akses media sosial oleh pemerintah.

(agusman/kari)

Berita Populer

PT. Puzacha Utama Mandiri ©2015-2019 I All Right Reserved

To Top